Tips Agar Masa Panen Sukses Bagian 1

Hal-hal yang memicu serangan hama penyakit pada tanaman padi sebaiknya dicegah, bukan “dipadamkan” ketika sudah menyerang pertanaman. T ahun ini Kementerian Pertanian membidik target produksi padi mencapai 84 juta ton gabah kering giling. Presiden Joko Widodo berkeinginan agar produksi beras nasional harus surplus dan mampu swasembada. Namun fakta di lapangan, di tingkat petani masih banyak hal yang perlu dibenahi. Mulai dari pemilihan benih, mengatasi serangan OPT, hingga penanganan panen dan pascapanen.

Memasuki musim tanam, biasanya petani menyiapkan waktu dua minggu sebelum kegiatan tanam untuk melakukan pembajakan, pembibitan dan persiapan lainnya. Iman Segara, Crop Manager FMC Agricultural Manufacturing berujar, dilihat dari segi intensitas, kegiatan petani meningkat di awal musim mengingat banyaknya hal fundamental yang mesti dilakukan. “Ketika petani itu missed (luput) dalam melakukan hal penting pada awal masa tanam, maka konsekuensinya ada di akhir,”. Persiapan dari Awal Tingginya serangan hama penyakit pada satu musim seharusnya dapat diminimalkan sejak awal. Asalkan, persiapan tanam dilakukan secara cermat. Persiapan tanam beserta perawatan tanaman mampu meningkatkan produksi.

Dengan persiapan tanam yang tepat, target yang diinginkan akan tercapai. Iman mengungkapkan, di samping pengendalian hama, agro manajemen (manajemen pertanian) sedemikian penting dilaksanakan. Di lain kesempatan, Bonjok Istiaji, Pengelola Klinik Tanaman IPB, secara konsisten menyuarakan agar ketahanan ekologis tanaman dikuatkan terlebih dulu. “Ketika ketahanan pertanaman sawah dikuatkan, mau gangguannya seperti apapun, akan relatif aman terhadap hama penyakit,” ungkap Bonjok. Kemudian, ia juga menyarankan untuk mengembalikan jerami ke lahan, paling sedikit setengah dari total yang ada dan tidak dibakar, melainkan dibusukkan.

Menurut Bonjok, sebaiknya jerami tidak dibakar karena akan menghilangkan unsur penting yang dibutuhkan tanah. Petani pun dimintanya lebih memperhatikan benih yang ingin digunakan. Sebab, tak jarang penyakit timbul akibat terbawa atau tersebar dari benih. Sementara untuk imunisasi benih yang berupa seed treatment (perlakuan terhadap benih), bisa dengan memanfaatkan plant growth promoting rhizobacteria (PGPR). “Seed treatment bisa merangsang pertumbuhan tanaman, memperkuat kekebalan tanaman. Bisa dengan bakteri yang dibuat atau dengan produk-produk komer sial yang sudah ada,” jelas Dosen Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian IPB Bogor ini.