Tak Ada Tembakan dan Bercak Darah di Rumah Franky

Franky dan beberapa kawannya pada dinihari itu tengah asyik bermain kartu di kolong jalan tol Pelabuhan, Pluit, Jakarta Utara, pada 28 Juni lalu. Waktu menunjukkan pukul 03.00. Tiba-tiba, sekelompok polisi mengepung rumah kontrakan di permukiman kumuh itu. Sambil menodongkan senjata, polisi merangsek serta meminta Franky dkk menyerah. Polisi memburu Franky dan kawan-kawannya dari kelompok Tenda Orange karena mereka menjambret telepon seluler milik pejabat Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Syarief Burhanuddin, di kawasan Kota Tua, Jakarta Barat, pada 24 Juni lalu.

Syarif terjatuh dari sepeda dan menderita patah tulang. Beberapa hari setelah penangkapan, Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Jakarta Barat Ajun Komisaris Besar Edy Suranta Sitepu mengatakan Franky ditembak karena melawan saat ditangkap. Menurut dia, Franky menyerang aparat dengan menggunakan senjata tajam. Sejumlah warga yang menyaksikan penangkapan itu punya cerita berbeda. Menurut mereka, polisi menangkap Franky dkk tanpa perlawanan.

Polisi menggiring Franky dkk dengan tangan terikat lakban. “Bahkan mulutnya juga dilakban,” kata seorang perempuan yang tinggal kolong Jalan Tol Pelabuhan.” Kepada Tempo, sejumlah tetangga rumah kontrakan Franky juga menuturkan tak mendengar suara tembakan pada dinihari itu. Esok harinya, mereka pun tak melihat bercak darah di sekitar rumah kontrakan itu. “Beberapa hari kemudian, kami melihat di berita dia sudah meninggal,” kata tetangga di samping rumah Franky.

Ketika dikonfirmasi ulang, Edy menyatakan bahwa Franky memang tidak ditembak saat penangkapan, melainkan pada “proses pengembangan”, ketika polisi meminta dia menunjukkan tempat persembunyian anggota kelompok Tenda Orange lainnya. “Dia melawan dan berusaha mengambil senjata petugas,” kata Edy. Tempo mencoba menelusuri keluarga Franky untuk mendapatkan keterangan lebih lanjut. Pada buku pengambilan jenazah di Rumah Sakit Polri Kramat Jati tercantum alamat Muara Baru, Penjaringan RT 16/17 Blok A, Jakarta Utara.

Tempo lantas menyambangi alamat tersebut. Di sana, Tempo bertemu dengan Pasaribu, Ketua RT 16/17 blok A. Pasaribu mengatakan Franky kerap mendatangi Kampung Muara Baru. Namun dia bukan warga di lingkungan itu. Pasaribu juga mengaku tak tahu bahwa ada keluarga Franky yang tinggal di sana. “Dia memang sering ke sini, tapi main saja,” kata Pasaribu. Di Muara Baru, menurut Pasaribu, Franky dikenal sebagai penjambret. Namun dia tak pernah berbuat onar di lingkungan itu. Pasaribu tahu perihal berita Franky ditembak mati polisi. Tapi dia tak tahu ke mana jenazah Franky akhirnya dibawa.