Putri Gayatri

P UTRI kelas II sekolah menengah per tama saat mulai mengkritik pernikahan usia anak—ketika teman sekelasnya berhenti ke sekolah untuk menikah. Menu rut Putri, dampak pernikah Gayatri masih duduk di – – – an usia anak sangat luas: dari putus sekolah, risiko kekerasan dalam rumah tangga, hingga risiko kematian ibu dan bayi. Dalam Undang-Undang Pernikahan, usia minimal perempuan untuk menikah adalah 16 tahun. ”Masih saya perjuangkan untuk dinaikkan standarnya,” katanya. Sejak dini, ayahandanya memang menanamkan agar ia bermanfaat untuk orang lain.

Melalui organisasi nonpemerintah, Save the Children, ia pun melakukan advokasi dan diskusi tentang pernikahan usia anak. ”Sekecil apa pun tindakannya, saya ingin punya dampak untuk orang banyak,” ujar Putri, Jumat pe- kan lalu. Aktivitas itu membawanya ke Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa ke-70 di New York, Amerika Serikat, saat usianya 15 tahun. Di sana, ia menyuarakan keberatannya atas pernikahan usia anak. Kini ia 16 tahun, kelas I Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Banjaran, dan mulai memperlihatkan perhatiannya kepada penyandang disabilitas.

Dia ingin semua anak memiliki hak yang sama dalam pendidikan dan memperoleh perlakuan yang sama. ”Sekarang sudah ada teman difabel bersaing normal di sekolahku,” kata Putri. Ratna Yunita dari Save the Children memuji komitmen dan keberanian Putri. Dia paling menonjol dibanding temanteman seusianya. ”Dia punya potensi jadi role model,” ujar Ratna.