Potensi Bisnis Sawit di Indonesia Bagian 3

Beberapa analis, nasional dan internasional, optimistis, harga dalam enam bulan ke depan akan naik. “El Nino, saya perkirakan akan me – nu runkan produksi sawit di kedua ne – gara. Di Indonesia produksi akan menjadi 30 juta ton 2016 dari 31 juta ton 2015, sementara Malaysia akan turun menjadi 18 juta ton dari 19,6 juta ton. Penurunan produksi tersebut pasti akan mempengaruhi perimbangan su – plai dan permintaan sawit di dunia se – hingga akan memulihkan harga pada 2016,” ujar Ling Ah Hong dari Ganling SDN BHD, Malaysia. Senada dengan Ling, Thomas Miel ke, analis ternama dari Oil World, Ham burg, Jerman, meramalkan, pasar dunia akan mengalami defisit. “Defisit akan besar kalau mandatori biodiesel (di Indonesia) yang sekarang ini terlaksana. Ini cukup menarik di negara-negara produsen besar dan dapat mendukung harga.

Ini menguntungkan ba gi petani sawit di Indonesia, Malaysia, Brasil, dan Argentina serta Amerika,” ulas Mielke. Dengan asumsi produksi Indonesia stagnan pada 31,5 juta ton, “Kami per – kirakan dalam April-Mei 2016, harga minyak sawit US$700-750 per ton di Rot terdam dibandingkan harga seka – rang US$560,” papar Mielke mantap. Dorab E. Mistry dari Godrej Inter – na tional Limited, India, yang tampil untuk ke-11 kalinya di IPOC memper – kirakan harga akan membaik kendati tidak terlalu tinggi. “Kalau harga mi – nyak bumi tetap rendah, US$40-US$60 per barel, akan sulit bagi harga minyak nabati untuk naik karena produksi biodiesel jadi berhenti atau berkurang. Harga minyak sawit pun akan terbatas pergerakannya. Saya proyeksikan harganya US$550 per ton di Indonesia atau US$600 FOB harga ekspor karena kena pungutan US$50. FOB US$600 diterjemahkan ke Rotterdam US$670,” kata Mistry. Prediksi kurang lebih sama disampaikan Fadhil Hasan. Direktur Ekse – kutif GAPKI ini memperkirakan produksi CPO Indonesia stagnan pada ang ka 33 juta – 35 juta ton tanpa El Ni – no. Jadi, dengan adanya El Nino ber – skala kuat, produksi kurang dari ang – ka tersebut. “Harga di pengaruhi ba nyak faktor, tapi pa da 2016 rata-rata ber kisar US$580-US$600 per ton FOB di Indonesia atau RM 2.550-2.560,” tuturnya. Angka yang tak berbeda jauh de ngan Mielke dilontarkan James Fry, Chairman LMC In ter national dari Ox ford, Inggris. “Pro – duksi minyak sa wit tahun depan akan turun karena dihantam kekeringan, aki – bat pengurangan aplikasi pupuk dan perawatan untuk mengirit biaya, juga oleh asap yang mengurangi pe nangkapan sinar matahari pada daun sawit. Proyeksi terbaik saya, produksi akan flat pada 2016. Jadi, proyeksi harga pada Maret 2016 mendatang US$600 per ton FOB. Pada akhir kuartal depannya akan naik US$75, mung kin US$675 – US$700 harga ekspor atau dikurangi US$50 di Indonesia,” tegas Fry. Kiranya pelemahan harga sawit su – dah berhenti. Kita tunggu fajar bisnis sawit yang lebih cerah.