Penembakan Begal Dinilai Janggal

Penembakan mati belasan orang oleh polisi Ibu Kota dinilai sarat kejanggalan. Kalangan keluarga dan tetangga menuturkan orang-orang yang dicap penjahat kambuhan itu tak memberontak ketika ditangkap. Mereka pun menyatakan tak mendengar suara tembakan pada saat penggerebekan. “Adik saya ditangkap tanpa perlawanan,” kata Widya, kakak kandung Dedi Sukma, kepada Tempo kemarin. Dedi, 33 tahun, ditangkap di rumahnya di Kebon Kosong, Kemayoran, Jakarta Pusat, pada 18 Juli lalu. Keesokan harinya, keluarganya mendapat kabar bahwa Dedi ditembak mati karena melawan dan berusaha merebut senjata polisi. “Kami tak percaya itu,” ujar Widya.

Kepolisian Daerah Metro Jaya menggelar Operasi Cipta Kewilayahan Mandiri untuk memastikan keamanan Ibu Kota menjelang perhelatan Asian Games 2018. Dalam sebulan terakhir, polisi menembak 52 orang 15 orang di antaranya tewas. Ombudsman Republik Indonesia termasuk yang mempertanyakan tindakan polisi itu. Hari ini Ombudsman kembali mengundang kepolisian untuk meminta penjelasan ihwal prosedur operasi dan penembakan mati itu. Juru bicara Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Prabowo Argo Yuwono, mengatakan polisi menembak mati mereka karena para tersangka melawan dan hendak kabur.

Beberapa di antaranya berusaha merebut senjata petugas. “Polisi boleh mengambil tindakan SPACEX tegas dan terukur, jika pelaku melawan dan membahayakan,” ucap Argo seraya menegaskan bahwa polisi siap memenuhi undangan Ombudsman. Berbekal alamat yang tercantum pada buku pengambilan mayat di Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, pekan lalu Tempo menemui keluarga dan tetangga enam orang yang ditembak mati. Para saksi mata itu umumnya menuturkan tak melihat perlawanan ataupun mendengar tembakan saat penggerebekan.

Tempo, misalnya, menemui keluarga Heru Astanto, warga Pasar Rumput, Setiabudi, Jakarta Pusat. Menurut keluarganya, Heru tidak melawan saat ditangkap pada 7 Juli lalu. “Dia bahkan tak diikat ataupun diborgol,” kata seorang kerabat Heru. Keesokan harinya, keluarga mendapat kabar bahwa Heru ditembak mati. Jenazahnya bisa diambil di Rumah Sakit Polri Kramat Jati. Kepala Forensik Rumah Sakit Polri Edy Purnomo mengatakan, berdasarkan hasil visum, 15 jenazah tertembak pada bagian dada. Sebagian mengalami luka tembus dari punggung ke dada.

Ada juga jenazah dengan dua sampai tiga luka tembak pada titik berdekatan di dada. “Tembakan ada yang mengenai jantung, paru-paru, dan pembuluh darah,” kata dia. Menurut Edy, hanya ada satu jenazah dengan luka tembak di bagian paha. Tak ada luka tembak pada bagian tubuh lainnya. Ini mengindikasikan bahwa polisi tidak melumpuhkan lebih dulu para tersangka sebelum menembak mati mereka.

Pelbagai Kejanggalan Itu

UPAYA Kepolisian Daerah Metro Jaya memberantas kejahatan jalanan dengan menembak mati pelakunya mendapat kritik dari kalangan pegiat hak asasi manusia. Berikut ini sejumlah kejanggalan seputar penembakan mati 15 orang yang disebut polisi sebagai penjahat kambuhan tersebut.

  1. Polisi mengklaim 15 orang itu ditembak mati karena melawan atau berusaha merebut senjata petugas. Sebaliknya, sejumlah saksi mata penangkapan menyatakan para tersangka menyerah tanpa perlawanan dan tidak mendengar tembakan.
  2. Para tersangka tidak ditembak ketika melakukan kejahatan yang membahayakan korbannya, melainkan ketika diburu polisi.
  3. Polisi tak membeberkan kronologi penembakan mati secara transparan, termasuk kepada Ombudsman Republik Indonesia yang menginvestigasi dugaan malpraktik oleh polisi.
  4. Tembakan langsung menyasar bagian mematikan di dada, sebagian tembus dari dada ke punggung atau sebaliknya.
  5. Ada jenazah dengan beberapa bekas tembakan, tapi masih di sekitar dada.
  6. Tak ada luka pada bagian tubuh lain yang menunjukkan tersangka terlibat adu fsik dengan aparat.
  7. Tak ada bekas tembakan pada bagian kaki untuk melumpuhkan tersangka yang berusaha melarikan diri.