J A N N A H GURU ANAK-ANAK TRANSMIGRAN

H ANYA dasar tapi mengajar anak-anak sekolah menengah pertama dan bertahan 17 tahun. Jannah membuka Rumah Pintar di Desa lulus sekolah Rantau Panjang di Paser, Kalimantan Selatan, pada 1999. Waktu itu usianya baru 18 tahun. Jannah dan suaminya, Syamsul Arifin, baru pindah dari Tabalong, kabupaten lain di provinsi itu. Di tanah transmigrasi itu, mereka mendapat lahan rumah 100 meter persegi dan 2 hektare untuk bertani. Di kampung itu, Jannah melihat anak-anak transmigran yang datang lebih dulu luntang-lantung sepulang sekolah. Ia mengajak mereka belajar mengaji dan sopan santun di rumahnya. Syamsul mengajari mereka selepas asar. Karena jumlah murid bertambah dari hari ke hari, ruang belajar pindah ke musala.

Jumlah murid terus bertambah dan ”sekolah” Jannah-Syamsul kian terkenal. Pemerintah Paser mendengarnya dan memberi bantuan Rp 200 ribu per enam bulan untuk operasional, termasuk buat membeli buku dan alat tulis. Sementara suaminya mengajarkan AlQuran, Jannah mengajari murid-muridnya adab dan sopan santun. Mengajarnya tak memakai teori. ”Mengajarkan kebaikan tak perlu pendidikan,” kata lulusan SD Masingai 1 di Tabalong ini. Anak-anak menyukai cara Jannah mengajar. Waktu belajar setiap hari, kecuali Jumat. Ini hari khusus yang disediakan perempuan 35 tahun itu untuk mengajarkan mengaji bagi ibu-ibu di kampungnya. Jannah mengajari penduduk di desanya seraya berkebun sehari-hari. Dari bertani itulah Jannah-Syamsul menghidupi tiga anak mereka. Pada 2011, datang ke Rantau Panjang anak-anak muda yang dikirim Indonesia Mengajar. Mereka menyarankan Jannah mendirikan Rumah Pintar agar kegiatan belajar terfokus. Tempatnya di belakang rumah dengan biaya bangunan dari Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan Kabupaten Paser