Putri Gayatri

P UTRI kelas II sekolah menengah per tama saat mulai mengkritik pernikahan usia anak—ketika teman sekelasnya berhenti ke sekolah untuk menikah. Menu rut Putri, dampak pernikah Gayatri masih duduk di – – – an usia anak sangat luas: dari putus sekolah, risiko kekerasan dalam rumah tangga, hingga risiko kematian ibu dan bayi. Dalam Undang-Undang Pernikahan, usia minimal perempuan untuk menikah adalah 16 tahun. ”Masih saya perjuangkan untuk dinaikkan standarnya,” katanya. Sejak dini, ayahandanya memang menanamkan agar ia bermanfaat untuk orang lain.

Melalui organisasi nonpemerintah, Save the Children, ia pun melakukan advokasi dan diskusi tentang pernikahan usia anak. ”Sekecil apa pun tindakannya, saya ingin punya dampak untuk orang banyak,” ujar Putri, Jumat pe- kan lalu. Aktivitas itu membawanya ke Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa ke-70 di New York, Amerika Serikat, saat usianya 15 tahun. Di sana, ia menyuarakan keberatannya atas pernikahan usia anak. Kini ia 16 tahun, kelas I Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Banjaran, dan mulai memperlihatkan perhatiannya kepada penyandang disabilitas.

Dia ingin semua anak memiliki hak yang sama dalam pendidikan dan memperoleh perlakuan yang sama. ”Sekarang sudah ada teman difabel bersaing normal di sekolahku,” kata Putri. Ratna Yunita dari Save the Children memuji komitmen dan keberanian Putri. Dia paling menonjol dibanding temanteman seusianya. ”Dia punya potensi jadi role model,” ujar Ratna.

J A N N A H GURU ANAK-ANAK TRANSMIGRAN

H ANYA dasar tapi mengajar anak-anak sekolah menengah pertama dan bertahan 17 tahun. Jannah membuka Rumah Pintar di Desa lulus sekolah Rantau Panjang di Paser, Kalimantan Selatan, pada 1999. Waktu itu usianya baru 18 tahun. Jannah dan suaminya, Syamsul Arifin, baru pindah dari Tabalong, kabupaten lain di provinsi itu. Di tanah transmigrasi itu, mereka mendapat lahan rumah 100 meter persegi dan 2 hektare untuk bertani. Di kampung itu, Jannah melihat anak-anak transmigran yang datang lebih dulu luntang-lantung sepulang sekolah. Ia mengajak mereka belajar mengaji dan sopan santun di rumahnya. Syamsul mengajari mereka selepas asar. Karena jumlah murid bertambah dari hari ke hari, ruang belajar pindah ke musala.

Jumlah murid terus bertambah dan ”sekolah” Jannah-Syamsul kian terkenal. Pemerintah Paser mendengarnya dan memberi bantuan Rp 200 ribu per enam bulan untuk operasional, termasuk buat membeli buku dan alat tulis. Sementara suaminya mengajarkan AlQuran, Jannah mengajari murid-muridnya adab dan sopan santun. Mengajarnya tak memakai teori. ”Mengajarkan kebaikan tak perlu pendidikan,” kata lulusan SD Masingai 1 di Tabalong ini. Anak-anak menyukai cara Jannah mengajar. Waktu belajar setiap hari, kecuali Jumat. Ini hari khusus yang disediakan perempuan 35 tahun itu untuk mengajarkan mengaji bagi ibu-ibu di kampungnya. Jannah mengajari penduduk di desanya seraya berkebun sehari-hari. Dari bertani itulah Jannah-Syamsul menghidupi tiga anak mereka. Pada 2011, datang ke Rantau Panjang anak-anak muda yang dikirim Indonesia Mengajar. Mereka menyarankan Jannah mendirikan Rumah Pintar agar kegiatan belajar terfokus. Tempatnya di belakang rumah dengan biaya bangunan dari Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan Kabupaten Paser

Profil Rosa Dahlia II

http://109.199.119.180/ Tapi bekerja di balik meja tak sejalan dengan nuraninya. Hanya tiga bulan bekerja, Rosa mengundurkan diri. Rosa lalu bertekad melayani anak-anak di pedalaman Tanah Air. Bergabung dengan program Satu Buku untuk Indonesia, ia datang kembali ke Binaiya. Tujuannya adalah mengirimkan 1.000 buku untuk anak-anak di sejumlah desa yang terletak di sekitar lereng gunung. Sesama petualang ACI asal Magelang, Farchan Noor Rachman, dalam blognya pada 15 April 2014 menyebut Rosa sebagai suluh bagi anak-anak Binaiya.

”Susah payah (Rosa) datang kembali demi pendidikan untuk mereka, tak minta balas kecuali harap agar anak-anak Binaiya lebih mengenal dunia.” Indah Hati tak heran terhadap pengembaraan adik bungsunya yang kini menambatkan hati di Papua itu. Demi kecintaannya kepada anak-anak, Rosa yang terkenal tomboi ini rela berjalan jauh, naik-turun lembah, demi mencapai lokasi kerja. Rosa, kata Indah, adalah sosok yang ia banggakan karena rela mengajar banyak hal untuk anak-anak Papua meski tak dibayar. ”Kami sudah mewakafkan dia untuk Papua, seperti mimpinya menjadi terang bagi Papua,” ujar Indah dalam laman Facebooknya. Pada kesempatan libur Natal tahun lalu, di tengah keluarga besarnya di Magelang, Rosa pamit untuk melanjutkan pengembaraannya di Kabupaten Asmat. Mulai Juni tahun depan, ia dikontrak untuk mengembangkan sekolah alternatif di wilayah pesisir selatan Papua hingga lima tahun mendatang.

Profil Rosa Dahlia I

Kota-Bunga.net T ENGAH hampir tiba saat lima anak berusia tujuh tahun menumpuk buku di meja yang terletak di tengah ruangan. Di luar masih hujan. Tapi Rosa Dahlia menyuruh anak-anak itu lekas pulang. Guru di Distrik malam Lualo, Kabupaten Lanny Jaya, Papua, ini khawatir esok hari mereka terlambat datang. ”Besok kami akan mandi di mata air,” kata Rosa, Jumat dua pekan lalu. Aktivitas ini menggantikan jadwal menonton film yang semestinya dilakukan setiap Sabtu. Kegiatan itu batal karena laptop Rosa tertinggal di Poga. Jaraknya sekitar tiga jam berjalan kaki dari Lualo. Di tengah musim hujan, tanah lempung yang menghubungkan Poga dan Lualo berubah menjadi lumpur. Hampir satu tahun alumnus Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, ini menjadi pengajar di sana. Ia bukan guru honorer. Keberadaannya di desa yang masih terisolasi dari listrik itu atas kemauannya sendiri. Bersama rekannya, Andreas Wahyu, perempuan kelahiran Magelang, Jawa Tengah, ini menyulap bangunan perpustakaan seluas 35 meter persegi menjadi tempat belajar sekaligus tempat tinggal. Itu sebabnya, meski sudah larut malam, perpustakaan tak pernah sepi dari anakanak. Meski sudah di luar jam sekolah, anak-anak terus berdatangan.

”Biasanya datang sejak sore untuk membaca atau sekadar bermain,” ujarnya. Tapi Rosa selalu mewanti-wanti, ”Kalau mau ke sini di luar jam sekolah, bantu dulu Ibu-Bapak di rumah.” Sebelum mengajar di Lualo, bungsu dari lima bersaudara ini sudah menjadi guru bahasa Indonesia di Poga. Ia lolos seleksi program mengajar sebuah lembaga swadaya masyarakat yang didirikan Yohanes Surya—bekerja sama dengan pemerintah daerah Lanny Jaya. Rosa sempat ditempatkan di Tiom selama satu tahun, lalu pindah ke Sekolah Dasar Inpres Poga setahun berikutnya. Meski sama-sama di Lanny Jaya, kondisi Poga jauh berbeda dengan Tiom. Selain tak ada listrik, sarana surat-menyurat ke desa yang terletak 80 kilometer dari pusat Kota Wamena ini bisa dibilang tak ada. Situasi itu tak menyurutkan semangat Rosa. Ia lalu mendirikan Honai Pintar Poga, pusat informasi dan belajar masyarakat. Bekerja sama dengan komunitas Satu Buku untuk Indonesia, perempuan 29 tahun ini mendatangkan ratusan buku ke Poga. Masalah datang pada Juni tahun lalu. Rosa diberhentikan dari tugasnya setelah menghadiri pelatihan guru di Jakarta. Alasan pemecatan tak jelas. ”Mereka cuma bilang, sebagai koordinator, Ibu Guru Rosa tidak bisa mengikuti sistem,” kata Hibronius Neno, kawan seperjuang an Rosa di Poga, yang ditemui di Wamena, Sabtu dua pekan lalu. Padahal, menurut Hibronius, Rosa cukup terbuka dan tidak egoistis. Rosa sudah jatuh cinta pada Papua. Perempuan berkulit sawo matang ini pantang mundur dan tak mempersoalkan pemecatan itu. Tekadnya mengabdi di sana sudah bulat. Itu sebabnya, ia berlabuh di Lualo, yang terletak di ketinggian 2.000 meter dari permukaan laut. Alasannya: melayani anak-anak yang memiliki semangat belajar. Apalagi sekolah di Lualo sudah lama tak beroperasi karena tak ada guru yang mau mengajar di sana. Rosa memutuskan menetap di Lualo menggunakan dana pribadi. Untuk memenuhi kebutuhan operasional sekolah, ia menggalang dana dari penjualan kaus #honaipintar di Jawa. Ia sesekali mendapat sumbangan dana—termasuk tas, alat tulis, dan makanan—dari teman-temannya. l l l MENJADI guru tak pernah terlintas di benak perempuan bernama lengkap Rosa Dahlia Yekti Pratiwi ini.

Semasa di sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas, Rosa termasuk anak badung. Ia kerap dipanggil guru bimbingan dan konseling karena sering berkelahi dan memalak teman sekolah. ”Kalau aku jadi guru, nanti murid-muridku nakalnya sama seperti aku dulu,” kata Rosa sambil terbahak Perjumpaannya dengan buku Sokola Rimba pada 2007 mengubah pandangannya. Perempuan yang menghabiskan masa kecilnya di Magelang ini sadar bahwa guru tak melulu bekerja formal di dalam kelas. Butet Manurung, yang mengabdi di tengah suku Anak Dalam, Sumatera, menjadi panutannya akan sosok guru. ”Kisah Butet Manurung adalah turning point saya. Guru bisa mengajar di mana saja, termasuk di pedalaman,” ujarnya. Kecintaan pada anak-anak mendorong Rosa—saat itu baru menjalani tahun kedua di universitas—ikut serta dalam sejumlah komunitas belajar-mengajar. Salah satunya Perkampungan Sosial Pingit di Yogyakarta, yang membantu anak-anak jalanan belajar membaca dan menulis. Kakak kedua Rosa, Indah Hati Kusumawati, mengatakan adiknya memang memiliki perhatian besar terhadap anak-anak. Mundur dari komunitas Pingit, kegiatan Rosa tak lantas berhenti. Pada 2011, mimpinya bertualang ke daerah pedalaman dimulai.

Kali ini Indah yang mendorong Rosa mendaftarkan diri pada kegiatan Aku Cinta Indonesia (ACI). Indah ketika itu tengah menginap di tempat kos Rosa— saat berkunjung ke Yogyakarta. ”Entah kenapa, waktu itu saya yakin dia pasti keterima,” kata Indah saat dihubungi pada Senin pekan lalu. Keberuntungan berpihak pada Rosa. Ia berhasil masuk daftar 60 petualang ACI setelah menyisihkan 750 pendaftar lain dari seluruh Indonesia. Proyek ini mengantarkan Rosa menjalani ekspedisi 12 hari mendaki Gunung Binaiya di Maluku. Lulus kuliah pada 2012, Rosa melamar sebagai sekretaris di sebuah perusahaan di Yogyakarta.

Pengolahan Rumput Laut Harus Lebih Maksimal

Pengolahan Rumput Laut

Hingga saat ini Indonesia masih kokoh sebagai produsen dan eksportir bahan baku rumput nomor satu dunia. Bahan baku rumput laut dalam bentuk kering, ada juga bentuk chip, karaginan, dan agar-agar yang mayoritas diproduksi dalam skala industri pengolahan. Di sisi lain, perkembangan pasar ekspor rumput laut ternyata mulai diikuti perkembangan pasar dalam negeri.

Seperti diungkapkan Pakar rumput laut Prof Jana Anggadiredja, selama ini pasar rumput laut dalam negeri masih terbatas dalam bentuk agar-agar, padahal jika serius dikembangkan diversifikasi produk olahan rumput laut dapat menarik perhatian konsumen dalam negeri. Terbukti apa yang dilakukan para pengolah rumput laut skala Usaha Kecil Menengah (UKM) yang tergabung dalam Rumput laut Center (RLC) mampu membuka pasar dalam negeri, kata Jana.

UKM Rumput Laut
Lebih lanjut Jana menjelaskan, para pengolah rumput laut skala UKM sudah bisa menyerap bahan baku rumput laut yang kemudian diolah dalam berbagai produk seperti keripik, minuman, kerupuk, stik, jeli, dodol, bakso, nuget, sirup, dan produk lainnya yang kebanyakan untuk makanan. Proses pengolahan yang dilakukan juga cukup sederhana. Dari hasil surveinya ke anggota RLC, Jana menggambarkan, kebanyakan pengolah menggunakan bahan baku berupa rumput laut kering yang awalnya dicuci dan digiling sampai menjadi tepung.

Tapi jangan salah tepung yang dimaksud buka level semi refine karaginan atau refine karaginan yang harus melalui proses lebih rumit. Setelah menjadi tepung, bahan baku tersebut bisa diolah menjadi beragam bentuk produk atau bahan campuran makan, kata Jana. Ada juga pengolah yang sudah menggunakan bahan baku semi refine karaginan untuk membuat produk olahnya. Jana mengapresiasi apa yang dilakukan para pengolah rumput laut UKM di berbagai daerah ini.

Mereka mengembangkan usaha murni inisiatif karena melihat potensi atau peluang bisnis, sejauh ini belum ada program pemerintah yang mendukung pengembangan usaha para pengolah tersebut, kata Jana bangga. Jana menilai, dengan berkembangnya usaha pengolahan rumput laut skala rakyat ini, konsumen dalam negeri disajikan punya banyak pilihan produk yang tentunya dengan harga masih terjangkau. Kalau ini terus didorong dan makin besar maka budaya makan rumput laut bisa meningkat. Kemudian otomatis pasar dalam negeri ikut meningkat.

Ia coba membuat hitungan, tidak muluk-muluk katakanlah satu tahun, satu orang Indonesia makan makanan berbasis rumput laut misalnya rumput yang terpakai nya sekitar 1 kg. Kalau 100 juta orang makan makanan rumput laut sudah 1 juta kg. “Berapa ton kan yang bisa terserap. Tapi memang harus ada upaya promosi, katanya. Jana menggambarkan, saat ini sudah ada pengolah rumput laut UKM yang mampu memproduksi produk olahan sampai rata-rata 3 ton per bulan.

Tentu angka ini jauh jika dibandingkan produksi skala industri, namun lanjutnya, yang patutu diperhatikan adalah jaringan usaha skala UKM ini mampu memberikan benefit dan membuka peluang usaha bagi banyak masyarakat Indonesia. Jana mengingatkan, perkembangan pasar produk olahan rumput laut dalam negeri juga perlu diimbangi dengan proses pengolahan yang sesuai standar higienis. Jangan lupa ini adalah produk makanan yang harus diperhatikan level kebersihan dan kesehatan produknya. Kedepan perlu mulai diajukan perizinan kesehatan dan standar lainnya supaya kualitas produk lebih terjamin, dalam hal ini perlu bimbingan dan dukung an dari pemerintah daerah dan pusat, tegas Jana.

Menurut Jana yang juga dewan pembina RLC, sejuah ini tidak kurang dari 100 produk olehan rumput laut sudah mampu diproduksi anggota RLC di berbagai daerah. Ia coba mendorong pihak industri besar dalam negeri untuk bisa bekerjasama dengan para pengolah ini agar bisa mensuplai bahan baku dan terus mengembangkan berbagai formulasi rumput laut. Sehingga tidak terbatas untuk produk makanan bisa produk lain seperti campuran sabun.

UKM di setiap lokasinya harus di bekali dengan genset solar agar hasil pengolahanya menjadi lebih maksimal. Kenapa genset ? Sebab kita masih sering terkendala pada pemadaman listrik, hal ini menyebabkan beberapa mesin yang memerlukan listrik tidak berfungsi dan berdampak pada menurunya hasil produksi. Jika menggunakan genset diesel yanmar terbaik maka masalah terhadap listrik dapat teratasi dan produki meningkat.

Potensi Bisnis Sawit di Indonesia Bagian 3

Beberapa analis, nasional dan internasional, optimistis, harga dalam enam bulan ke depan akan naik. “El Nino, saya perkirakan akan me – nu runkan produksi sawit di kedua ne – gara. Di Indonesia produksi akan menjadi 30 juta ton 2016 dari 31 juta ton 2015, sementara Malaysia akan turun menjadi 18 juta ton dari 19,6 juta ton. Penurunan produksi tersebut pasti akan mempengaruhi perimbangan su – plai dan permintaan sawit di dunia se – hingga akan memulihkan harga pada 2016,” ujar Ling Ah Hong dari Ganling SDN BHD, Malaysia. Senada dengan Ling, Thomas Miel ke, analis ternama dari Oil World, Ham burg, Jerman, meramalkan, pasar dunia akan mengalami defisit. “Defisit akan besar kalau mandatori biodiesel (di Indonesia) yang sekarang ini terlaksana. Ini cukup menarik di negara-negara produsen besar dan dapat mendukung harga.

Ini menguntungkan ba gi petani sawit di Indonesia, Malaysia, Brasil, dan Argentina serta Amerika,” ulas Mielke. Dengan asumsi produksi Indonesia stagnan pada 31,5 juta ton, “Kami per – kirakan dalam April-Mei 2016, harga minyak sawit US$700-750 per ton di Rot terdam dibandingkan harga seka – rang US$560,” papar Mielke mantap. Dorab E. Mistry dari Godrej Inter – na tional Limited, India, yang tampil untuk ke-11 kalinya di IPOC memper – kirakan harga akan membaik kendati tidak terlalu tinggi. “Kalau harga mi – nyak bumi tetap rendah, US$40-US$60 per barel, akan sulit bagi harga minyak nabati untuk naik karena produksi biodiesel jadi berhenti atau berkurang. Harga minyak sawit pun akan terbatas pergerakannya. Saya proyeksikan harganya US$550 per ton di Indonesia atau US$600 FOB harga ekspor karena kena pungutan US$50. FOB US$600 diterjemahkan ke Rotterdam US$670,” kata Mistry. Prediksi kurang lebih sama disampaikan Fadhil Hasan. Direktur Ekse – kutif GAPKI ini memperkirakan produksi CPO Indonesia stagnan pada ang ka 33 juta – 35 juta ton tanpa El Ni – no. Jadi, dengan adanya El Nino ber – skala kuat, produksi kurang dari ang – ka tersebut. “Harga di pengaruhi ba nyak faktor, tapi pa da 2016 rata-rata ber kisar US$580-US$600 per ton FOB di Indonesia atau RM 2.550-2.560,” tuturnya. Angka yang tak berbeda jauh de ngan Mielke dilontarkan James Fry, Chairman LMC In ter national dari Ox ford, Inggris. “Pro – duksi minyak sa wit tahun depan akan turun karena dihantam kekeringan, aki – bat pengurangan aplikasi pupuk dan perawatan untuk mengirit biaya, juga oleh asap yang mengurangi pe nangkapan sinar matahari pada daun sawit. Proyeksi terbaik saya, produksi akan flat pada 2016. Jadi, proyeksi harga pada Maret 2016 mendatang US$600 per ton FOB. Pada akhir kuartal depannya akan naik US$75, mung kin US$675 – US$700 harga ekspor atau dikurangi US$50 di Indonesia,” tegas Fry. Kiranya pelemahan harga sawit su – dah berhenti. Kita tunggu fajar bisnis sawit yang lebih cerah.

Potensi Bisnis Sawit di Indonesia Bagian 2



Harga Membaik

Menyikapi lesunya bisnis sawit, pe – me rintah melalui Badan Pengelola Da – na Perkebunan (BPDP) Sawit me – ngutip pungutan dari ekspor produk sawit dengan besaran US$50 – US$10 per ton tergantung jenis produknya. Joko mengakui, dalam jangka pendek kebijakan pemerintah tersebut akan mengurangi keuntungan petani dan pengusaha hulu perkebunan. Namun dalam jangka menengah dan panjang diharapkan kebijakan ini akan membawa manfaat bagi semua. Menurut Bayu Krisnamurthi yang tampil sebagai pembicara utama da – lam IPOC 2015, dana sawit digunakan untuk mendukung penggunaan bio – diesel, peremajaan kebun sawit rakyat, pemberdayaan petani kecil, riset, pela – tihan, edukasi, promosi, dan advokasi.

BLU yang efektif bekerja sejak 16 Juli 2015 ini telah mendukung program pemanfaatan biodiesel B15 sekitar 223 ribu kiloliter (KL) sampai 25 No vem – ber 2015. “Dan sebanyak 1,8 juta KL untuk periode November 2015-April 2016 sehingga totalnya akan men capai 7 juta KL sepanjang 2016 senilai Rp11 triliun,” papar Direktur Utama BPDP Sawit tersebut. Apalagi bila Indonesia serius dalam mengimplementasikan B20 tahun depan, pasokan minyak sawit ke pasar dunia berkurang sehingga harga akan pulih. “Program B20 akan menjadi ‘game changer’ (penentu harga) harga CPO bila pasar biodiesel Indonesia melebihi ekspektasi pasar sebanyak 2,5 juta – 3,5 juta KL dan mencapai skenario langit biru dengan konsumsi 7 juta KL atau 23% dari total produksi CPO Indonesia,” komentar Ivy Ng, Regional Head of Plantation, Deputy Head, Research CIMB Malaysia. Tambahan lagi, Indonesia dan Malay sia, dua pemasok utama minyak sawit mengalami kekeringan dihantam El Nino yang bikin produksi ber – kurang.



Potensi Bisnis Sawit di Indonesia

Demikian harapan para pengusaha kelapa sawit sekembali dari konfe rensi akbar The 11th In ter – national Palm Oil Con – ference & 2016 Price Outlook (IPOC 2015) di Bali Nusa Dua Con vention Center, Bali, 25-27 November silam. Konferensi yang menurut Mona Surya, Wakil Ketua Gabungan Peng usaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), dihadiri 1.010 orang dari 22 ne ga ra ini mengangkat tema penting “The Fund and the Future of Palm Oil lndustry”.

Anjlok 30%

Dua tahun terakhir bisnis sawit tidak menggairahkan. Menurut Joko Supri – yono, Ketua Umum GAPKI dalam sam butan pembukaan IPOC 2015, se – jak tahun lalu harga minyak sawit mentah (CPO) turun tajam karena mele – mah nya permintaan dari negara peng – impor, anjloknya harga minyak bumi, dan berlebihnya suplai minyak nabati lain di pasar dunia. “Rata-rata harga CPO periode Ja – nuari-Oktober 2015 hanya mencapai US$584 per ton turun dari US$821 per ton pada periode yang sa – ma 2014 atau turun sebesar 30%,” ungkap Joko. Meskipun harga rendah, ekspor CPO tak terdong – krak juga lantaran terja – dinya pelambatan ekonomi di negara-negara pa – sar tradisonal CPO.

Tak cukup sampai di situ, In – do nesia juga dilanda ke – bakaran hutan dan lahan yang dipicu fenomena El Nino. Berdasarkan data global – forest.com, sekitar 10%-nya berada di konsesi perkebunan sawit. Industri sawit, lanjut dia, menyerap 4 juta tenaga kerja atau 16 juta orang bila dihitung dengan keluarganya, berperan dalam pengentasan kemiskinan di pedesaan dan membangun dae rah di lokasi perkebunan. Yang kalah penting, “Minyak sawit merupakan peng hasil devisa terbesar di luar mi nyak dan gas bumi yang pada 2014 kurang lebih US$21 milliar atau 13,4%. Karena itu, “Ka – mi mengusulkan agar sawit ditetapkan menjadi komoditas strategis,” tandas Jo – ko di hadapan Wa pres Jusuf Kalla yang ju ga hadir membuka secara resmi IPOC kali ini. Wapres pun sepakat de – ngan pandangan GAPKI. “Kelapa sawit merupakan komoditas yang bernilai strategis karena sawit ti dak hanya untuk kepen tingan korporasi tetapi juga sebagai sumber de visa untuk kemaslahatan yang dapat meningkat kan kesejahteraan masya rakat,” ujarnya.

Pengusaha Truk Klaim Bahan Bakar Nabati Ancam Bisnis Logistik

Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia, Kyatmaja Lookman, meminta pemerintah berhati-hati dalam menerapkan kewajiban mencampur bahan bakar nabati ke solar sebanyak 20 persen (program B20). Jika diterapkan sembarangan, kebijakan ini akan mengganggu operasi jutaan unit truk dan aktivitas pengiriman barang bisa terganggu. “Sektor logistik pasti terganggu, sehingga ujungujungnya biaya membengkak,” ujarnya kepada Tempo, kemarin. Dia menuturkan, berdasarkan pertemuan dengan pemerintah bulan lalu, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mengakui bahwa program pencampuran ini belum dilaksanakan secara konsisten.

Tim menemukan masih ada stasiun pengisian bahan bakar umum yang menjual solar dengan campuran bahan bakar nabati di bawah 20 persen. Namun, kata Kyatmaja, pelaksanaan itu justru menguntungkan Asosiasi. Sebab, berdasarkan studi, program B20 malah berisiko membuat mesin truk cepat kotor, sehingga pengusaha harus lebih sering melakukan perawatan. Selain itu, biodiesel membuat truk lebih boros 2,3 persen. Kyatmaja mengungkapkan bahwa biodiesel juga hanya cocok bagi truk yang berumur 10 tahun ke bawah.

Saat ini anggota Asosiasi memiliki sekitar 3 juta unit truk uzur. Dia menyarankan agar pemerintah menggelar tes kelayakan B20. Selama ini, tes baru dihelat hanya untuk kendaraan roda empat tanpa muatan. “Padahal itu jauh berbeda. Truk juga biasa berjalan sampai pelosok dan membawa muatan.” Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian Energi, Rida Mulyana, mengakui masih ada badan usaha yang belum menjual biodiesel secara konsisten.

Penyebabnya bermacammacam. Misalnya karena cuaca yang tak mendukung atau birokrasi yang panjang. Akibatnya, pengiriman bahan bakar nabati (BBN) terganggu. “Kami ingin urusan biodiesel nantinya ada fast track seperti sembako. Supaya konsisten,” kata dia. Rida mengklaim uji coba biodiesel sudah diterapkan bagi seluruh kendaraan.

Dengan demikian, kata dia, pelaksanaan program B20 bisa dilaksanakan secara intensif mulai September mendatang. Pemerintah hanya perlu menggelar tes lanjutan untuk penambahan campuran BBN sebesar 30 persen yang rencananya diberlakukan pada 2020. “Jadi, B20 nanti akan diberlakukan untuk semuanya. Akan ada sanksi bagi yang tak mencampur solar dengan BBN,” kata dia.

Pemerintah Batalkan Program Biodiesel 30

Pemerintah memutuskan tak akan mempercepat program kewajiban pencampuran bahan bakar nabati (BBN) sebesar 30 persen ke solar atau biodiesel 30 (B30) tahun depan. Alasannya, pemerintah membutuhkan waktu untuk menguji coba efektivitas program bagi seluruh kendaraan. “Program B30 sesuai roadmap saja. Karena penerapannya harus road test dulu dan itu memakan waktu hingga enam bulan lebih,” ujar Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi, Rida Mulyana, di kantornya, kemarin.

Rida mengemukakan bahwa program B30 bakal diterapkan dua tahun lagi. Berdasarkan Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 12 Tahun 2015 tentang Penyediaan, Pemanfaatan, dan Tata Niaga Bahan Bakar Nabati sebagai Bahan Bakar Lain, kewajiban pencampuran berlaku untuk sektor pelayanan publik, industri komersial, pembangkit listrik, dan sektor transportasi lainnya. Industri kecil juga harus menggunakan solar yang mengandung BBN. Wacana percepatan mengemuka saat Presiden Joko Widodo menggelar rapat terbatas pada Juli lalu.

Menurut Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, Jokowi menginginkan percepatan program biodiesel untuk mengurangi impor bahan bakar minyak. Program ini diperkirakan bisa menekan impor minyak sebesar 500 ribu ton per tahun, sehingga kebutuhan dolar AS juga bisa berkurang. Karena belum siap mempercepat pemberlakuan B30, pemerintah akhirnya mencari cara lain untuk mengurangi tekanan kurs. Opsi yang disepakati, kata Rida, adalah perluasan program biodiesel 20 (B20) ke sektor non-pelayanan publik.

Saat ini program biodiesel baru berlaku untuk penjualan solar subsidi dan solar untuk pembangkit listrik. Menurut dia, perluasan program bisa mengurangi pembelian minyak mentah dari luar negeri hingga 1,2 juta kiloliter pada tahun ini. Rida menghitung impor yang berkurang bisa menghemat devisa sebesar US$ 600 juta. “Jadi, tujuannya bukan memasarkan minyak sawit, tapi lebih ke penghematan devisa,” kata dia. Rida menyatakan program B20 ke sektor nonpelayanan publik bisa berlaku mulai September mendatang.

Kementerian Energi sudah menggelar uji coba B20 untuk transportasi darat dan kereta api. Hasilnya, solar yang mengandung BBN cocok untuk mesin kendaraan roda empat. Sedangkan untuk kereta api, injektor mesin perlu diganti ke peralatan yang lebih tahan BBN. Selain uji coba, pemerintah bakal merevisi Peraturan Presiden Nomor 61 Tahun 2015 tentang Penghimpunan dan Penggunaan Dana Perkebunan Kelapa Sawit.

Perubahan berkaitan dengan kewajiban pemerintah memberikan subsidi bagi penjualan BBN ke sektor non-pelayanan publik. “Perpresnya sudah di Kementerian Sekretaris Negara. Revisi Peraturan Menteri Energi sedang kami siapkan,” kata Rida. Presiden PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia, Warih Andang Tjahjono, mengatakan kendaraan yang diproduksi perusahaannya sudah sanggup menerima solar dengan campuran BBN 20 persen.

Namun, jika campurannya bertambah menjadi 30 persen, dia mengatakan korporasi membutuhkan waktu.“Industri juga belum menyesuaikan model produksi mesin yang cocok,” kata dia. Pengurus Asosiasi Produsen Biodiesel Indonesia, Togar Sitanggang, menyatakan anggotanya siap menerima tambahan pesanan biodiesel dari pemerintah. Sebab, total kapasitas produksi biodiesel domestik saat ini mencapai 12 juta kiloliter, sedangkan permintaannya baru mencapai sekitar 3 juta kiloliter. “Jadi, dari segi pasokan sudah sangat siap,” katanya.